Ayah Adalah yang Terbaik

Ayah Adalah yang Terbaik

Ayah Adalah yang Terbaik

Jam sudah menunjukkan angka sebelas ketika aku duduk merebahkan diri di ruang tengah. Tentu saja istri dan anakku sudah tertidur lelap. Tapi kenapa pintu kamar anakku masih terbuka?
Aku tertegun saat berdiri di depan pintu kamar anakku. Anakku tertidur di meja belajarnya, ditangan kanannya masih memegang pinsil dan sepertinya dia menulis sesuatu di buku tulisnya dan ada segelas kopi.
“Tumben anak ini minum kopi,”pikirku. Kuangkat dia ketempat tidur.┬áKubereskan meja belajarnya yang berantakan, namun sebelum aku menutup buku tulisnya aku ingin melihat apa yang ditulis anakku. Aku tertegun sejenak saat membaca tulisan-tulisannya, ternyata semuanya cerita tentang diriku. Sampai akhirnya aku membaca 3 lembaran terakhir yang sangat menyentuh hatiku. Di lembaran pertama dia menulis :
“Hari ini ayah tidak jadi menemaniku ke toko buku, mungkin ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Aku mengerti dengan kesibukanmu ayah.”
Aku jadi ingat beberapa minggu yang lalu anakku mengajakku ke toko buku, aku ingat sekali gaya bicaranya yang polos.
“Ayah nanti sore ada kegiatan nggak sih,”sapa anakku saat aku akan pergi kerja.
“Ada apa sayang,” jawabku.
“Ayah mau nggak menemani aku ke toko buku?”
“Kalau ayah nggak sibuk nanti sore akan ayah usahakan menemani kamu yach”.
“Terima kasih, ayah,” ucap anakku dengan wajah yang sangat gembira sambil mencium pipiku. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.
Di lembaran kedua dia menulis : “Hari ini ayah tidak jadi lagi menemaniku ke toko kaset, padahal aku ingin sekali mendengar lagunya Sulis dan memutarnya di kamarku saat aku sedang sendiri agar aku tidak merasa sunyi. Sebenarnya aku mau ngajak ibu tapi aku ingin sekali ditemani ayah. Tapi lagi-lagi ayah sibuk”.┬áDan aku ingat lagi kalau anakku memang pernah mengajakku menemaninya membeli kaset. Kalau dia ingin mengajakku dia selalu bicara seperti ini,”Ayah nanti sore sibuk nggak atau Ayah nanti sore ada kegiatan?”┬áBahasa yang sopan sekali menurutku sehingga aku tidak bisa untuk mengatakan tidak walaupun terkadang aku tidak bisa memenuhi keinginannya.
Di lembaran terakhir dia menulis : “Hari ini dan untuk kesekian kalinya ayah tidak bisa menemaniku. Tadi aku mengajak ayah ke pasar malam padahal ini kan hari terakhir ada pasar malam di komplekku dan aku udah janji sama pak Mamat kalau aku akan membeli boneka yang ditawarkan tadi sore saat pak Mamat lewat depan rumahku, aku katakan pada pak Mamat kalau aku akan pergi bersama ayah ke pasar malam dan aku akan membeli boneka pak Mamat. Karena ayah masih belum pulang pasti pak Mamat sudah menjualnya. Pak Mamat maafkan aku yah.
Besok pagi akan aku tunggu di depan rumah dan minta maaf pada pak Mamat kalau aku tidak bisa pergi ke pasar malam.
Kali ini aku yang akan duluan meminta maaf, biasanya kan pak Mamat selalu minta maaf kalau sudah melihatku di depan rumah menanti majalah yang kupesan. Dia selalu bilang,”maaf yah neng pak Mamat terlambat”. Padahal menurutku pak Mamat nggak terlambat hanya aku yang terlalu cepat menunggunya. Begitu melihatku sudah menunggu dia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi. Saat kutanya kenapa sih pak Mamat selalu minta maaf padahal pak Mamat kan nggak punya salah pada aku.

 

Baca Juga :